Infokota.online
Semarang — Lonjakan harga kedelai impor dalam beberapa waktu terakhir mulai menekan pelaku usaha tempe dan tahu di Jawa Tengah. Kenaikan yang mencapai lebih dari 20 persen ini berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi, memicu kekhawatiran di kalangan pengrajin.
Ketua Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Jawa Tengah, Sutrisno Supriantoro, mengungkapkan harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.000 per kilogram kini melonjak menjadi sekitar Rp11.000 per kilogram. Bahkan, menurutnya, kenaikan tersebut hampir menyentuh angka 30 persen.
“Kenaikannya sudah lebih dari 20 persen, dari Rp9.000 sekarang menjadi Rp11.000 per kilogram, hampir 30 persen,” ujar Sutrisno mengutip RRI, Jumat (10/4/2026).
Kondisi ini dirasakan langsung oleh para pengrajin tempe dan tahu yang sangat bergantung pada kedelai sebagai bahan baku utama. Lonjakan harga tersebut membuat margin keuntungan semakin tergerus, bahkan berpotensi memaksa pelaku usaha kecil untuk menaikkan harga jual produk mereka.
Sutrisno menilai, salah satu penyebab utama kenaikan harga kedelai adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor. Saat ini, sekitar 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipasok dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat.
Ketergantungan ini membuat harga kedelai dalam negeri sangat rentan terhadap dinamika global.
Sementara itu, Ekonom Universitas Negeri Semarang, Bayu Bagas Hapsoro, menegaskan bahwa kenaikan harga kedelai tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan stok. Ia menilai faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi penyebab utama.
Menurutnya, pelemahan rupiah membuat biaya impor kedelai semakin mahal, sehingga berdampak pada harga di tingkat pengrajin.
“Kenaikan ini bukan karena stok yang kurang, melainkan karena faktor produksi yang naik, terutama akibat pelemahan rupiah terhadap dolar. Kita membeli kedelai dengan basis dolar, sehingga sangat terpengaruh,” jelasnya.
Bayu menambahkan, kondisi global yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh pemerintah Indonesia juga turut memengaruhi stabilitas harga. Oleh karena itu, solusi yang dapat dilakukan adalah memperkuat faktor internal, terutama dalam hal produksi dan distribusi.
Ia mendorong pemerintah untuk mengambil langkah strategis guna mengurangi ketergantungan impor, di antaranya dengan memperkuat produksi kedelai lokal, meningkatkan peran koperasi, serta memperbaiki sistem distribusi.
“Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki manajemen dalam negeri, termasuk memperkuat petani kedelai lokal agar tidak sepenuhnya bergantung pada impor,” ujarnya.
Selain itu, Bayu juga menyarankan pemberian subsidi sebagai langkah jangka pendek untuk membantu pengrajin menghadapi lonjakan harga bahan baku, sekaligus menjaga stabilitas harga tempe dan tahu di pasaran.
Dengan kondisi saat ini, para pengrajin berharap adanya intervensi nyata dari pemerintah agar usaha mereka tetap bertahan dan daya beli masyarakat tidak semakin tertekan.
(Drc)
