Oleh: Muhammad Ilyas Djazuli
Peserta LK III HMI Badko Jateng-D.I.Yogyakarta 2026
Entah sejak kapan konsep khalifah berubah fungsi. Dari amanah, jadi alasan. Dari tanggung jawab, jadi pembenaran. Entah sejak kapan manusia merasa status khalifah itu setara dengan sertifikat hak milik alam. Begitu menyebut “manusia sebagai khalifah di bumi”, sebagian orang langsung merasa punya kuasa moral secara penuh atas alam. Di negeri ini, cukup menyebut “demi kemaslahatan manusia” dan atas nama pembangunan, hutan bisa ditebang, gunung dikeruk, sungai diperas sampai kering. Alam diperlakukan seperti properti pribadi, sementara manusia merasa sedang menjalankan mandat Tuhan. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: manusia kebablasan merasa paling berhak atas bumi. jikalau ditelusuri lebih jujur lagi, konsep khalifah sejak awal bukanlah sebagai lisensi eksploitasi, melainkan amanah yang penuh dengan risiko moral dan etik.
Kerusakan lingkungan di Indonesia hari ini adalah bukti nyata dari tafsir yang kebablasan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan deforestasi masih terjadi dalam skala ratusan ribu hektare per tahun. Tambang ilegal menjamur di Sumatra, Kalimantan, serta kawasan Indonesia lainnya, dan banyak di antaranya berada di kawasan hutan lindung dan daerah aliran sungai. Dampaknya tidak perlu ditunggu di jurnal ilmiah maupun media intelektual lainnya. Banjir bandang Aceh-Sumatra, longsor di Sumatra Barat dan beberapa daerah di indonesia pada akhir tahun 2025 sampai awal 2026, hilangnya ruang hidup masyarakat adat, semua itu adalah cara alam mengirimkan surat protes, sayangnya sering kita baca sambil dengan konsep ” masuk telingan kanan, keluar telinga kiri”.
Dan ironisnya, semua ini kerap kali dibungkus dengan dalih teologis. Konsep khalifah fil ardh ditarik ke arah antroposentrisme ekstrem: manusia sebagai pusat semesta, alam sekadar alat. Pemikiran Muhammad Iqbal sering ikut diseret ke kubu ini. Pemikiran Muhammad Iqbal tentang manusia sebagai makhluk aktif dan kreatif kerap dipotong seenaknya. Pendapat muhammad Iqbal bahwa manusia aktif, kreatif, dinamis lalu disimpulkan secara gegabah: berarti manusia bebas menaklukkan apa saja. Seolah-olah Iqbal ini sedang bersorak: “Silakan taklukkan alam karena kalianlah pengelolanya!”. Padahal dalam Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal justru menekankan tanggung jawab etis manusia dalam sejarah, bukan pengangkatan manusia sebagai raja semesta ataupun preman kosmos. Keaktifan manusia, bagi Iqbal, selalu berkelindan dengan kesadaran moral, bukan keserakahan atau kerakusan (Tamak) berjubah iman.
Kalau kita mau jujur membuka kitab tafsir klasik pun, klaim manusia sebagai penguasa alam ini sebenarnya malah semakin rapuh. Al-Qurthubi menegaskan bahwa khalifah adalah amanah untuk menegakkan keadilan dan mencegah kerusakan di bumi. Al-Tabari memaknai khalifah sebagai pergiliran generasi yang saling bertanggung jawab atas keberlanjutan bumi. Tidak ada satu pun yang memberi karpet merah bagi eksploitasi rakus. Tapi manusia modern sering lebih suka tafsir yang menguntungkan dompet ketimbang yang menenangkan nurani.
Di sinilah problem antroposentrisme bekerja: manusia lupa diri. Merasa paling penting, paling berhak, paling menentukan. Maka tafsir ulang menjadi sebuah keharusan, bukan pilihan. Teologi kosmosentris menawarkan jalan yang lebih waras. Manusia tetap punya akal, kehendak, dan kreativitas, tapi sadar bahwa ia bagian dari kosmos, bukan pusatnya. Khalifah bukan bos besar alam semesta, melainkan penjaga keseimbangan. Bukan pemilik, tapi penanggung jawab.
Peran kader HMI seharusnya tidak hanya berhenti pada diskusi normatif atau slogan kaderisasi semu. Sebagai insan akademis, HMI perlu mendorong tafsir keislaman yang juga berpihak pada keberlanjutan ekologis. Sebagai insan pencipta, HMI mesti menawarkan gagasan pembangunan yang tidak rakus dan serba instan atau pragmatisme ekstrem. Dan sebagai insan pengabdi, HMI wajib berdiri bersama korban banjir, longsor, dan perampasan ruang hidup. Sebab membela alam hari ini bukan isu tambahan, melainkan inti dari amanah khalifah itu sendiri, jika kita masih mau jujur mengakuinya.
