Dinas Perkim LH dan Lintas Komunitas Dorong Penguatan Konservasi Kehati Hutan Petungkriyono di Pekalongan
PEKALONGAN, 1 Oktober 2026 – Kabupaten Pekalongan memiliki kelimpahan keanekaragaman hayati (kehati) yang tinggi dan bernilai strategis. Kawasan ini tersusun atas mozaik ekosistem yang sangat beragam, mulai dari ekosistem pesisir Pantai Utara, mangrove, riparian, sungai, danau, hingga hutan hujan tropis dataran rendah. Berbagai tipe ekosistem tersebut menjadi rumah bagi spesies langka dan dilindungi yang terancam punah seperti Elang Jawa, Owa Jawa, Kukang Jawa, Raja Udang Kalung Biru, dan Macan Tutul, serta keanekaragaman flora endemik dan plasma nutfah.
Namun, kekayaan hayati ini menghadapi tekanan antropogenik yang sangat besar. Ancaman perubahan tata guna lahan, pemanfaatan yang tidak berkelanjutan, pencemaran lingkungan, serta perubahan iklim mengintai keberlangsungan spesies kunci dan merusak fungsi jasa lingkungan.
Menanggapi tantangan tersebut, Mercy Corps Indonesia melalui program Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pra-Diseminasi Hasil Identifikasi High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS) di ASTON Syariah Hotel Pekalongan, Kamis (1/10/2026).
Dalam agenda tersebut, perwakilan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Kabupaten Pekalongan, Eva Retnosari, menegaskan pentingnya kajian ilmiah ini sebagai landasan pembenahan tata kelola konservasi.
“Saat ini di Kabupaten Pekalongan belum terdapat kawasan konservasi formal—baik Kawasan Pelestarian Alam (in-situ maupun ex-situ) maupun Kawasan Suaka Alam. Oleh karena itu, penetapan Areal dengan Nilai Konservasi Tinggi yang teridentifikasi, seperti di Kawasan Hutan Petungkriyono, sebagai areal preservasi sesuai amanat UU No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya menjadi langkah yang sangat penting dan mendesak,” papar Eva Retnosari.

Eva menyampaikan empat poin rekomendasi utama:
* Apresiasi Kajian: Menyampaikan apresiasi atas inisiatif kajian HCV/HCS oleh Mercy Corps Indonesia sebagai wujud dukungan terhadap komitmen pemda menuju pembangunan berkelanjutan dan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (e-GRK).
* Acuan Pencegahan Deforestasi: Menjadikan peta sebaran stok karbon tinggi sebagai acuan teknis mencegah deforestasi dan degradasi lahan.
* Integrasi ke Dokumen Daerah: Menegaskan agar hasil kajian tidak sekadar menjadi dokumen di atas meja, melainkan diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPPLH, RTRW, dan RPJMD.
* Panduan Tata Kelola Lahan: Memanfaatkan hasil kajian sebagai panduan bagi multipihak—termasuk pelaku usaha perkebunan/kehutanan dan masyarakat—dalam mengelola lahan secara bertanggung jawab.
*
Dukungan Lintas Komunitas dan Pengembangan Ficus Nursery Centre
Dukungan terhadap aksi konservasi ini juga datang dari unsur masyarakat sipil. Koordinator Umum Lintas Komunitas Peduli Pekalongan (LKPP), Handono Warih, menjelaskan bahwa pihaknya mendukung penuh upaya konservasi di Kabupaten Pekalongan.
Selama ini, LKPP bersama berbagai komunitas telah melakukan berbagai langkah nyata di lapangan, salah satunya pemeliharaan sumber mata air melalui penanaman pohon genus Ficus di sekitar lingkungan mata air. Sebagai langkah strategis lanjutan, LKPP saat ini tengah membangun pusat pembibitan Ficus bernama Ficus Nursery Centre (FNC) Pekalongan.
“Kami siap mendukung penuh upaya konservasi seperti yang dibahas pada FGD ini. Kami juga akan mengkolaborasikan FNC yang sedang kami bangun bersama pihak Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan. Semoga FNC ini bisa menjadi salah satu pusat pembibitan Ficus berskala nasional,” ujar Handono Warih saat memberikan pandangannya pada sesi diskusi FGD.
Sinergi antara kajian ilmiah, komitmen pemerintah daerah, dan aksi nyata dari komunitas masyarakat ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi multipihak demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan ketahanan iklim di Kabupaten Pekalongan.
har
