Workshop Desa Berketahanan Iklim dan Tangguh Bencana Digelar di Desa Karangdowo
PEKALONGAN – Kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim dan kesiapsiagaan menghadapi bencana terus didorong di tingkat desa. Hal tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Workshop Desa Berketahanan Iklim dan Tangguh Bencana yang digelar di Desa Karangdowo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi antara Kelompok 70 Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan dengan Pemerintah Desa Karangdowo.
Workshop diikuti sekitar 60 peserta yang berasal dari unsur pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga Desa Karangdowo.Ketua Kelompok 70 KKN UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Aldi Ghofari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja KKN yang dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan dan meningkatnya risiko dampak perubahan iklim.
Menurutnya, kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, seperti suhu yang sangat panas dan kekeringan pada waktu tertentu, dapat memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat, lingkungan, maupun aktivitas sehari-hari.
“Melalui workshop ini kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai apa itu perubahan iklim, penyebab dan dampaknya, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama untuk mengurangi risiko dan dampak perubahan iklim di lingkungan Desa Karangdowo,” ujar Aldi.
Selain membahas perubahan iklim, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Perwakilan BPBD Kabupaten Pekalongan, Fajar Anggoro, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan iklim, khususnya dalam upaya pengurangan risiko dan penanggulangan bencana.
Ia menilai program edukasi dan sosialisasi di tingkat desa perlu terus dilakukan dengan melibatkan masyarakat bersama pemerintah desa.”Ini adalah suatu kegiatan yang baik untuk menunjukkan bahwa dalam menanggapi perubahan iklim, khususnya dalam penanggulangan bencana, masyarakat harus terlibat,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Desa Karangdowo juga telah membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) sebagai salah satu langkah awal dalam proses penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana).
Fajar berharap pembentukan Destana di Desa Karangdowo dapat terus dilanjutkan secara bertahap. Setelah terbentuknya FPRB, terdapat sejumlah indikator lain yang perlu dipenuhi, antara lain kajian risiko bencana, pembentukan tim relawan penanggulangan bencana, penilaian ketahanan desa, serta kajian cepat untuk mendukung tanggap darurat ketika terjadi bencana.
Sementara itu, Sekretaris Desa Karangdowo, Agung Bisyara, menjelaskan bahwa kegiatan workshop tersebut merupakan salah satu kegiatan yang bersumber dari Dana Desa Tahun Anggaran 2025.
Menurut Agung, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya masyarakat, dalam menghadapi potensi bencana. Pengalaman bencana yang terjadi sebelumnya menjadi pembelajaran bagi pemerintah desa dan masyarakat agar lebih siap menghadapi kondisi serupa.
Ia mengungkapkan bahwa pada awal 2025, Desa Karangdowo turut terdampak luapan Sungai Sengkarang. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat maupun pemerintah desa menghadapi kebingungan mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
“Harapannya dengan adanya kegiatan ini, baik pemerintah desa maupun warga masyarakat semuanya bisa mendapatkan edukasi dan pemahaman yang lebih baik. Sehingga ketika suatu saat nanti terjadi musibah atau bencana, kita bisa lebih siap dalam menghadapinya,” jelas Agung.
Selain meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan, Pemerintah Desa Karangdowo berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat. Sebab, menurut Agung, penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan oleh pemerintah desa saja, tetapi membutuhkan kebersamaan dan kerja sama seluruh elemen masyarakat.
Melalui workshop ini, Desa Karangdowo diharapkan tidak hanya memiliki masyarakat yang lebih memahami perubahan iklim dan risiko bencana, tetapi juga memiliki kesiapsiagaan yang semakin kuat melalui kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, relawan, serta berbagai pihak terkait.
Pembentukan FPRB menjadi langkah awal untuk memperkuat Desa Karangdowo menuju desa yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana. Ke depan, berbagai indikator Destana diharapkan dapat dipenuhi secara bertahap sesuai dengan kemampuan dan kondisi desa.
