Menggerakkan Pemuda dari Desa: Sarasehan Karang Taruna Pekalongan Bahas Pertanian Milenial hingga Ekosistem Organisasi
PEKALONGAN — Karang Taruna Kabupaten Pekalongan menggelar acara Sarasehan bertajuk “Bali Ndeso Mbangun Deso” bertempat di Aula Kantor Kecamatan Buaran pada Jumat (18/9/2026) mulai pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi sekaligus ruang diskusi interaktif bagi pengurus Karang Taruna, tokoh pemuda, dan pemangku kepentingan dalam mengurai berbagai persoalan lokal di tingkat desa.
Selain menghadirkan narasumber utama Ribut Achwandi, S.S., M.Hum., acara ini turut dihadiri oleh Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pekalongan Muhammad Haqqi Hasenda, Camat Buaran Ali Akbar, serta Ketua Karang Taruna Kota Pekalongan Sahrul Pamuji Utomo.
Mendorong Inovasi Pertanian Milenial dan Pengelolaan Lingkungan
Dalam sesi diskusi, Ketua Duta Petani Milenial Kabupaten Pekalongan, Handono Warih, memaparkan pentingnya peran pemuda dalam dunia pertanian modern. Ia menegaskan bahwa kategori petani milenial (rentang usia 18–40 tahun) tidak terbatas pada kepemilikan lahan atau budidaya hortikultura semata, melainkan mencakup seluruh rantai pasok—mulai dari penyediaan bibit, pupuk organik, hingga strategi pemasaran dan distribusi.
“Pertanian milenial itu pemuda yang mau masuk ke dunia pertanian dengan pendekatan inovatif. Padi pun boleh, seperti teman saya yang sudah masuk kategori padi organik di Watu Gajah,” jelas Handono.
Sebagai langkah konkret, pihak Duta Petani Milenial siap memberikan pendampingan teknis gratis, fasilitas jaringan (networking), studi banding, edukasi penerapan Internet of Things (IoT) dan pemetaan (mapping), hingga sosialisasi bio-fertilizer serta pestisida hayati. Terkait isu lingkungan dan penanganan sampah rumah tangga, Handono membagikan metode ember tumpuk untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dialokasikan ke Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) maupun sistem urban farming.
Kemandirian Organisasi dan Pelestarian Budaya Lokal
Sebagai pemateri utama, Ribut Achwandi menyoroti dinamika serta idealisme dalam menjalankan organisasi sosial. Ia menekankan agar para anggota Karang Taruna memiliki kemandirian secara personal (settle) agar tidak menggantungkan hidupnya pada organisasi.
“Jangan sampai teman-teman yang ikut di dalam organisasi gantung ke organisasi. Ojo, kuwi dadi hama nantinya dan membuat ekosistem di dalam organisasi sendiri itu akan rusak,” tegas Ribut.
Ribut juga mendorong Karang Taruna untuk aktif menggali potensi hibah kementerian serta mendokumentasikan warisan sejarah dan budaya lokal—seperti kawasan hutan tropis Petungkriyono atau situs-situs bersejarah di desa—menjadi produk literasi maupun perhelatan budaya yang bernilai. Menurutnya, pemahaman sejarah dan hukum adat sangat krusial agar generasi mendatang tidak kehilangan identitas lokalnya.
Tanggapan para Pemangku Kebijakan
Camat Buaran, Ali Akbar, menyambut baik inisiatif penyelenggaraan forum ini sebagai ajang menghidupkan kembali peran Karang Taruna di wilayahnya. Ia menekankan pentingnya peran pemuda sebagai ujung tombak penataan lingkungan, utamanya dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
“Terima kasih untuk Karang Taruna Kabupaten yang bersinergi dengan Karang Taruna Buaran. Intinya ini sarasehan kumpul bareng membahas permasalahan di tempat masing-masing dan menghidupkan kembali kegiatan Karang Taruna,” ujar Ali Akbar.
“Banyak tukar pendapat dan sharing. Di Buaran ini kan daerah perkotaan, permasalahan sampah perlu kita atur. Pemuda sebagai tokoh muda harus menjadi ujung tombak dalam penataan sampah di wilayah Kecamatan Buaran,” tambahnya.
Dukungan serupa disampaikan oleh Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pekalongan, Muhammad Haqqi Hasenda. Pihaknya mengapresiasi langkah kepengurusan baru Karang Taruna yang langsung turun ke bawah (turba) untuk menyerap aspirasi dan berdiskusi mencari solusi atas permasalahan sosial.
“Saya atas nama pribadi merespon baik kegiatan ini, benar-benar berdiskusi bersama, tukar pikiran dan ide sehingga menghasilkan keputusan atau inovasi yang nanti bisa dimanfaatkan di desa atau kelurahan masing-masing,” kata Haqqi.
Haqqi menekankan pentingnya keaktifan pemuda di tengah masyarakat seraya menyitir pepatah Arab, ” Syubbanul yaum rijalul ghad, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Pemuda harus aktif dan responsif terhadap apa yang dibutuhkan masyarakat. Lanjutkan semangat!”
Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kota Pekalongan, Sahrul Pamuji Utomo, menggarisbawahi bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghalang bagi pemuda untuk bergerak dan berbakti kepada masyarakat.
“Karang Taruna bergerak di bidang sosial. Ada anggaran ataupun tidak ada anggaran, kita tetap harus punya kegiatan dan bergerak. Sebagai pemuda, bagaimana kita bisa mengadakan kegiatan yang mandiri,” tutur Sahrul.
Sahrul berharap pemuda terus membangun keyakinan dalam berorganisasi dan mampu berkolaborasi dengan perkembangan zaman, seperti pemanfaatan teknologi digital pada pertanian milenial. “Pemuda adalah agen sosial yang harus memberi dampak manfaat serta memberdayakan masyarakat di daerahnya masing-masing,” pungkasnya.
