Infokota.online
Susoh – Upaya memperkuat budaya baca di tingkat desa terus digencarkan. Komunitas Muda Literasi Aceh Barat Daya (MLA) mendorong pemerintah daerah untuk mengaktifan perpustakaan desa sebagai pusat literasi masyarakat.
Langkah ini ditandai dengan audiensi Muda Literasi bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Barat Daya yang berlangsung pada Senin (27/4/2026) di aula dinas setempat.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk membangun kolaborasi antara komunitas pemuda dan pemerintah dalam meningkatkan akses literasi di gampong.

Audiensi dipimpin langsung oleh pendiri Muda Literasi Abdya, Maulia bersama dua anggota lainnya. Mereka disambut oleh Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Perpustakaan beserta jajaran. Dalam pertemuan itu, MLA menyampaikan tujuan kedatangan sebagai bentuk silaturahmi sekaligus membuka ruang kerja sama strategis.
Selain itu, MLA juga memaparkan rencana pelaksanaan Program Saweu Gampong, yakni kegiatan sosialisasi literasi yang akan menyasar masyarakat desa. Program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran pentingnya budaya membaca serta mendorong pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber pengetahuan.
“Kami ingin budaya literasi benar-benar tumbuh di desa. Melalui Program Saweu Gampong, kami akan turun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi literasi,” ujar Maulia dalam pertemuan tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Perpustakaan Abdya, Iswandi, S.P menyatakan bahwa inisiatif yang diusung MLA sejalan dengan program pemerintah daerah. Ia menilai kolaborasi dengan kalangan muda menjadi kunci dalam mempercepat realisasi program literasi.
“Ini sejalan dengan program kami. Dengan adanya kolaborasi bersama anak muda, kami optimistis program ini dapat berjalan secara bertahap dan berkelanjutan,” ujarnya.
Iswandi juga menegaskan dukungan penuh terhadap kegiatan Saweu Gampong yang digagas oleh MLA. Menurutnya, keterlibatan komunitas menjadi energi baru dalam menghidupkan kembali perpustakaan desa yang selama ini belum optimal.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat untuk menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan perpustakaan desa di Aceh Barat Daya. Langkah awal yang akan dilakukan adalah pendataan kondisi perpustakaan di tingkat gampong, termasuk mengidentifikasi fasilitas yang belum aktif.
MLA menyatakan kesiapan untuk terlibat langsung dalam proses tersebut dengan menerjunkan anggotanya ke lapangan. Selain melakukan pendataan, mereka juga akan mengedukasi masyarakat terkait pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari.
Gerakan ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan literasi di desa-desa Abdya. Dengan sinergi antara pemerintah dan komunitas, pembangunan perpustakaan desa tidak hanya menjadi proyek fisik, tetapi juga gerakan sosial yang berdampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
(Lia)
