Wakil Ketua DPRD Pekalongan, Sumarrosul Soroti Etika Bermedia Sosial: “Jangan Misuh-Misuh, Itu Tidak Etis!”
PEKALONGAN, 25 April 2026 –Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Sumarrosul, menyoroti pentingnya etika dalam bermedia sosial, terutama bagi para komentator. Ia menekankan agar masyarakat, khususnya pengguna media sosial, tidak mengumbar kata-kata kasar atau umpatan saat memberikan tanggapan. Hal tersebut ia sampaikan dalam pertemuan dengan Insan Pers Pekalongan dalam forum silaturahmi insan media Pekalongan, bertempat di Gedung PPNI, Kajen, Kabupaten Pekalongan, Sabtu, 25 April 2026.
“Apalagi komentatornya itu luar biasa, sambil misuh-misuh (mengumpat) mengeluarkan kata-kata mutiara,” ujar Sumarrosul dengan nada prihatin, menyindir perilaku sebagian pengguna media sosial. Ia menambahkan bahwa suasana kondusif bukan berarti tidak ada kejadian, melainkan bagaimana menyikapi setiap peristiwa secara dewasa dan profesional.
Sumarrosul mencontohkan pentingnya kemitraan antara DPRD dengan media. Menurutnya, media memiliki peran dominan dalam menciptakan kondusivitas di era demokrasi saat ini. “Kenapa kami selalu berangkulan dengan media, bermitra dengan media? Karena saya tahu, di dalam era demokrasi saat ini, media sangat dominan untuk menciptakan bersama-sama kondusifitas di daerah masing-masing,” jelasnya.
Ia menyayangkan jika berita yang disajikan media terkadang dipelintir atau tidak diberitakan secara berimbang. “Sekali berita dari media dipelintir sedikit, itu nanti suasana jadi beda. Betul nggak?” tanyanya retoris. Sumarrosul memberikan contoh kasus jalan rusak di beberapa ruas. Ada pemberitaan yang kurang bagus, ada pula yang bagus. Namun, jika tidak ada kemitraan yang baik, hal-hal positif yang dibangun justru luput dari pemberitaan, sementara yang belum selesai malah diangkat.”Apalagi yang komentatornya itu luar biasa, sambil misuh-misuh mengeluarkan kata-kata mutiara. Ya kan? Kadang itu yang malah diviralkan,” sesalnya.
Oleh karena itu, Sumarrosul sangat setuju dengan adanya kritik yang konstruktif. Ia mengajak semua pihak untuk membangun bersama-sama dengan narasi yang santun dan indah. “DPRD juga begitu, selalu bermitra. Tetapi gunakanlah media dengan baik. Kalimat yang santun, tentu. Tidak usah dipisui, Pak,” pesannya.
Ia menambahkan, DPRD merasa malu jika ada pemberitaan negatif yang sampai viral karena ulah sebagian pihak. “Kita DPRD itu malu, nggak usah sampai nuwun sewu, dipisuhi, diviralkan saja kita sudah malu.” katanya, mengutip istilah Jawa yang berarti tidak perlu sampai berbuat tercela.

Sumarrosul mengingatkan pentingnya saling mengingatkan agar ke depannya dapat menyajikan kritik yang konstruktif dengan narasi yang cantik dan santun. “Masih banyak kalimat, apalagi kita sama-sama orang Jawa. Masih banyak,” ujarnya, mengisyaratkan kekayaan bahasa dan budaya Jawa yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan lebih halus.
Ia memberikan perumpamaan, “Kadang kalau orang Jawa dipangku saja, kita malah mati. Beda dengan mas Soni (salah satu awak media, Sumar : jokes), kalau dipangku malah berdiri.”
Kemitraan dengan media, tegas Sumarrosul, bukanlah ajang saling berebut atau berangan-angan, melainkan sebuah rangkulan erat untuk saling mengingatkan. “Kemitraan, itu artinya berangkulan. Saling mengingatkan. Ono rembuk, ya dirembuk,” katanya.
Jika ada pelanggaran atau “kebablasan”, ia berharap ada teguran terlebih dahulu.”Pak Sumar, ini teman-teman Dewan yang lainnya. Ini kok agak kebablasan soal ini. Saya sangat berterima kasih sekali,” pungkasnya, menutup pernyataannya dengan apresiasi kepada pihak yang telah mengingatkan.
devi
