Pekalongan – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) MWCNU Tirto mendirikan posko tanggap bencana di Gedung MWCNU Tirto, Kabupaten Pekalongan, menyusul banjir yang melanda wilayah tersebut sejak Sabtu, 17 Januari 2026.
Ketua LPBI NU MWCNU Tirto, Edi Susanto, mengatakan posko mulai diaktifkan sejak banjir berdampak pada permukiman warga. Sejak awal pendirian, relawan telah bersiaga penuh untuk melayani warga terdampak.
“Sejak Sabtu tanggal 17, saat banjir mulai berdampak, kami sudah standby di sini,” kata Edi Susanto saat ditemui di lokasi posko, Selasa, 20 Januari 2026.
Ia menjelaskan, aktivitas di posko dilakukan secara bergiliran dengan sistem dua sif. Relawan berjaga dari pagi hingga malam hari, sekaligus melakukan pendataan dan pelayanan terhadap para pengungsi.
Pada awal pembukaan posko, tercatat sebanyak 10 kepala keluarga (KK) mengungsi. Jumlah tersebut terus bertambah hingga mencapai puncaknya pada Senin malam.
“Puncaknya malam Senin itu ada 63 jiwa dari 16 KK yang mengungsi di sini,” ujarnya.
Namun, seiring dengan surutnya air banjir, para pengungsi kini telah kembali ke rumah masing-masing. Meski demikian, LPBI NU MWCNU Tirto tetap menetapkan status siaga di posko tersebut.
“Untuk hari ini pengungsi sudah pulang karena air sudah surut dan rumah-rumah bisa ditempati kembali. Tapi kami tetap siaga,” kata Edi.
Selain sebagai tempat pengungsian, posko juga difungsikan sebagai pusat distribusi bantuan logistik. Bantuan disalurkan kepada warga terdampak dari berbagai pihak, baik lembaga pemerintah maupun komunitas kemanusiaan.
“Bantuan datang dari NU Peduli, Banser, dinas terkait, dan donatur-donatur lainnya,” tambahnya.
Edi juga menyampaikan harapannya agar pemerintah memberi perhatian lebih pada sistem pembuangan dan aliran air untuk mencegah banjir serupa terulang.
“Kami berharap pembuangan air benar-benar diperhatikan, supaya laju air tidak berdampak seperti kemarin,” pungkasnya.
