Infokota.online
Jakarta — Badan Pusat Statistik mencatat tekanan inflasi berpotensi meluas ke sektor sandang seiring lonjakan harga bahan baku tekstil global. Kenaikan harga paraxylene hingga 40% menjadi sekitar US$1.300 per ton, yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah, diperkirakan akan mendorong kenaikan harga pakaian dalam waktu dekat.
Paraxylene merupakan bahan baku utama dalam produksi poliester, serat sintetis yang mendominasi industri tekstil modern. Lonjakan harga bahan ini akan merambat dari hulu ke hilir, sehingga berdampak langsung pada biaya produksi pakaian.
Berbeda dengan harga pangan yang cenderung fluktuatif, kenaikan harga pakaian memiliki karakteristik lebih permanen dan sulit turun dalam waktu singkat.
Dalam struktur Indeks Harga Konsumen (IHK), kelompok pakaian memang memiliki kontribusi relatif kecil, yakni sekitar 0,03% hingga 0,04%. Namun demikian, sifat kenaikannya yang persisten menjadikan sektor ini tetap berpotensi menambah tekanan inflasi jangka panjang.
Data BPS menunjukkan, pada Maret 2026 inflasi tahunan kelompok pakaian dan alas kaki tercatat sebesar 0,65%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 3,34%, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang menembus 7,24%. Meski kontribusinya kecil, kelompok pakaian tetap memberikan andil terhadap inflasi bulanan maupun tahunan.
Ketergantungan industri tekstil terhadap rantai pasok global menjadi faktor utama kerentanan ini. Paraxylene diolah menjadi purified terephthalic acid (PTA), bahan dasar poliester yang kemudian dipintal menjadi kain. Bahan ini juga digunakan dalam berbagai produk lain seperti kemasan plastik berbasis PET.
Sebagian besar produksi bahan baku tersebut berasal dari kilang minyak di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini menyebabkan terganggunya lebih dari 10% kapasitas etilena global, sehingga harga bahan baku ikut terdorong naik dan memicu efek domino di berbagai sektor industri, termasuk tekstil.
Sekjen Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia, Farhan Aqil Syauqi, memperkirakan dampak kenaikan harga bahan baku ini akan mulai terasa di tingkat konsumen terjadi pada bulan depan. Kenaikan harga tersebut memperkuat fenomena inflasi dorongan biaya (cost-push inflation), yang saat ini mulai mendominasi struktur inflasi nasional.
“Kemungkinan yang akan diterima konsumen, harganya akan naik itu di kisaran bulan depan. Jadi kemungkinan idul adha akan ada kenaikan untuk pakaian ya, itu dikenaikan sekitar 40-50 persen,” katanya, dikutip dari RRI, Rabu (8/4/2026).
Dari sisi konsumen, kenaikan harga pakaian akan menggerus daya beli riil. Rumah tangga dipaksa menyesuaikan pola konsumsi, seperti menunda pembelian pakaian, beralih ke produk yang lebih murah, atau mencari alternatif di pasar barang bekas (thrifting).
Tekanan ini datang di tengah beban pengeluaran lain yang sudah meningkat, seperti tarif listrik serta harga makanan dan minuman. Sementara itu, inflasi inti yang mencerminkan kekuatan permintaan domestik relatif terkendali, menandakan bahwa tekanan inflasi lebih disebabkan oleh kenaikan biaya produksi daripada peningkatan konsumsi masyarakat.
Di sisi produsen, lonjakan biaya bahan baku berpotensi mempersempit margin keuntungan, terutama ketika permintaan melemah akibat daya beli yang tertekan. Dalam kondisi tersebut, pelaku industri cenderung melakukan efisiensi, termasuk rasionalisasi tenaga kerja.
Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri tekstil, tetapi juga berpotensi meluas ke sektor lain melalui penurunan konsumsi rumah tangga. Padahal, konsumsi domestik selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
(csw)
