Infokotaonline.com
Batang — Pelaksanaan uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SMP Negeri 2 Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mendapat sambutan antusias dari pihak sekolah dan para siswa. Skema prasmanan dinilai menyajikan hidangan yang lebih segar dan hangat dibandingkan metode ompreng.
Plt Kepala SMPN 2 Kandeman, Adam Malik, berharap skema prasmanan ini dapat diperpanjang dan diterapkan secara berkelanjutan. Uji coba yang dimulai sejak Senin (5/10/2026) tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua pekan dengan melibatkan 64 siswa dari dua kelas setiap harinya.
“Anak-anak sangat antusias, karena menunya itu masih hangat dan lebih segar dibanding kalau memakai ompreng. Tadi ada kelas yang karena giliran, malah minta prasmanan, enggak mau yang ompreng,” ujar Adam dilansir dari Tribunjateng, Kamis (8/10/2026).
Konsep prasmanan ini mengadaptasi pendidikan makan Shokuiku dan Kyoshoku asal Jepang yang bertujuan melatih kemandirian serta memberikan edukasi nutrisi bagi siswa. Siswa mengambil sendiri porsi makanannya menggunakan wadah tray dan diperbolehkan menambah jika persediaan masih ada.
“Dari Jepang konsep Kyoshoku. Dari SOP-nya itu. Dari konsepnya Jepang juga itu mengajarkan untuk kemandirian siswa. Diperbolehkan jika memang ada sisa,” tutur Adam.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ujungnegoro, Wahyu Nugroho, menjelaskan bahwa kesegaran hidangan terjaga karena proses memasak dilakukan mendekati jam distribusi.
“Kalau biasanya kan kita di ompreng, kalau ini kita pakainya loyang-loyang yang kayak tray. Masaknya juga kita memperhatikan suhu, 60 sampai 80 derajat Celsius. Lebih fresh kalau masalah makanan,” terang Wahyu.
“Harusnya sih lebih mudah prasmanan. Soalnya kita masaknya juga jam 08.00, sebelum dikirimkan, langsung dimasak,” tambah Wahyu merinci alur pengiriman hingga tiba di sekolah sekitar pukul 09.00 WIB.
Kedekatan jarak antara sekolah dan Dapur SPPG Ujungnegoro menjadi alasan utama ditunjuknya SMPN 2 Kandeman sebagai lokasi uji coba, sehingga distribusi persediaan dapat dilakukan dengan cepat apabila terjadi kekurangan.
Meski respons siswa sangat positif, pihak sekolah menginventarisasi kendala teknis terkait tata letak bangunan. Akses menuju sejumlah ruang kelas di bagian bawah memerlukan mobilisasi melalui tangga yang cukup curam, sehingga menyulitkan pengangkutan peralatan prasmanan.
“Harus turun agak curam lagi, turun naik tangga. Nah ini untuk akses membawanya, perlengkapan ke kelas ini yang mungkin kendala juga untuk posisi kelas yang turun curam ke bawah,” ungkap Adam.
“Kalau bisa ini prasmanan dilanjutkan lagi. Cuma tadi untuk kelas yang atas mungkin ya, tapi untuk yang bawah ini nanti kita pikirkan bagaimana kendalanya atau pemecahannya supaya lebih mudah untuk bisa melaksanakan prasmanan,” pungkas Adam.
