Simbang Kulon Night Carnival Jadi Sorotan: Dari Klarifikasi Pemkab hingga Reaksi Pedas Netizen
Pekalongan, 14 September 2026 – Gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) di Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi, memicu gelombang kontroversi di tengah masyarakat.
Pertunjukan teatrikal bernuansa horor dan panggung simbolis yang ditampilkan dalam karnaval tersebut viral dan dinilai menyinggung nilai-nilai keagamaan.
Pandangan Pemkab: Apresiasi Kemandirian, Evaluasi Teatrikal & Dampak Psikis
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, memberikan tanggapan berimbang terkait polemik ini. Di satu sisi, beliau mengapresiasi kemandirian, kekompakan, dan kebersamaan warga Buaran yang menggelar festival serta sunat massal secara swadaya tanpa merepotkan pihak luar.
Namun, Sukirman tidak menampik bahwa atraksi teatrikal yang viral telah menimbulkan kegaduhan, multitafsir, serta dampak psikis—terutama bagi anak-anak yang menyaksikan.
“Memang ini harus menjadi perhatian karena sudah menimbulkan kegaduhan dan multitafsir… Pemkab akan berkoordinasi dengan panitia untuk mitigasi agar tidak muncul paham-paham di luar keislaman, kaidah agama, maupun Pancasila,” tegas Sukirman.
Meskipun panitia menjelaskan bahwa atraksi tersebut bermaksud menyimbolkan perlawanan terhadap keangkaramurkaan dan nafsu setan, penyajiannya secara live pada malam hari dinilai kurang tepat. Pemkab pun mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan meminta panitia segera memberikan klarifikasi terbuka.
Sorotan Ulama: Seni Tidak Bisa Disatukan Bebas dengan Acara Sakral
Isu ini semakin mencuri perhatian nasional setelah Ketua MUI, Kiai Cholil Nafis, turut memberikan tanggapan keras mengenai judul berita yang menyebut “Maulid Nabi Bernuansa Satanic”.
Menurutnya, acara sakral keagamaan seperti Maulid Nabi memiliki batasan tegas dan tidak bisa disusupi oleh semua jenis ekspresi kesenian yang bertentangan dengan norma syariat.
Reaksi Kritis Netizen di Grup Whatsapp: “Teatrikal Kebablasen & Tanggapan Pemda Kurang Tegas”
Di tingkat lokal, reaksi netizen di grup percakapan warga berlangsung cukup tajam dan dipenuhi nada kekecewaan terhadap jalannya karnaval maupun sikap pemerintah daerah:
Kritik Terhadap Sikap Pemda:
Salah satu anggota grup Y menilai tanggapan pemerintah daerah terkesan menormalisasi hal-hal negatif. Ia mengkritik Pemda yang dianggap kurang peka (aware) terhadap isu-isu sensitif keagamaan serta terkesan membiarkan fenomena karnaval tengah malam, sound horeg, hingga peragaan yang mengarah pada aliran/simbolisme tertentu.
Desakan Kembali ke Tradisi Murni Maulid:
Netizen lain D menilai atraksi tersebut sudah “kebablasen” dan sama sekali tidak pas disandingkan dengan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.
“Teatrikal yg kebablasen. Wis pokoke rak pas. Maulid ki ngaji dum2 roti/berkay balek koyo mben ae. Rasah karnaval2 ra nggenah,” tulisnya, mendesak agar Peringatan Maulid Nabi dikembalikan ke bentuk tradisi lama yang sarat makna keagamaan seperti pengajian dan pembagian berkah/makanan, ketimbang karnaval yang dinilai tidak jelas arahnya.
Gelaran SKNC 2026 menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara acara kebudayaan berbasis keagamaan di Kabupaten Pekalongan. Meskipun niat kreativitas dan semangat kemandirian masyarakat tinggi, integrasi simbol-simbol pertunjukan harus tetap memperhatikan kultur lokal, dampak psikologis anak, ketertiban umum, serta kesakralan dari peringatan keagamaan itu sendiri.
Dikutip dari berbagai sumber. Drc
