Fakta Pertanian Pekalongan: pH Tanah Cenderung Asam, Rugikan Petani dan Turunkan Hasil Panen
PEKALONGAN, 2 Mei 2026 – Masalah kualitas tanah menjadi sorotan utama di dunia pertanian Kabupaten Pekalongan. Berdasarkan pengamatan lapangan, banyak lahan sawah yang memiliki tingkat keasaman atau pH rendah, yang diduga menjadi penyebab utama tanaman tidak tumbuh optimal dan hasil panen yang jauh dari potensi maksimal.
Kasus dialami oleh Pak Atam, Ketua RT di Desa Watugajah, Kecamatan Kesesi. Pria ini mengeluhkan tanaman padinya yang baru berusia 13 hari setelah tanam, namun sebagian besar daunnya sudah berubah warna menjadi kuning, tanda jelas bahwa tanaman tersebut sedang sakit dan tidak sehat.
Merespons hal tersebut, Deviana, Konsultan Pertanian dari DeRuci Agrikultur, menyarankan penggunaan pupuk organik khusus merek ONTA. Menurutnya, kondisi pH tanah yang rendah telah menurunkan fungsi organ tanaman, sehingga diperlukan perbaikan tanah secara menyeluruh agar tanaman bisa kembali sehat dan menyerap nutrisi dengan baik.

Dukungan Fakta Ilmiah dan Empiris
Hal ini tidak lepas dari fakta sains yang telah banyak diteliti. Berdasarkan berbagai jurnal ilmiah, pH tanah yang terlalu asam sangat berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman.
Sebuah penelitian menjelaskan bahwa pada tanah dengan pH rendah, unsur hara makro seperti Fosfor, Kalsium, dan Magnesium menjadi sulit larut dan tersedia bagi tanaman. Sebaliknya, unsur beracun seperti Aluminium dan Mangan justru menjadi sangat larut dan dapat meracuni akar.
"Pada kondisi tanah dengan tingkat kemasaman tinggi, pertumbuhan tanaman umumnya akan terhambat dan produktivitas menurun drastis"
— (Bowo, 2020; Hardjowigeno, 2003)
Penelitian lain juga menegaskan bahwa pH tanah yang tidak seimbang menyebabkan akar tanaman tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga meskipun diberi pupuk, nutrisi tersebut tidak bisa diserap secara maksimal. Hal inilah yang menyebabkan daun menjadi kuning dan pertumbuhan terhambat.
"Pada tanah asam, ion Aluminium (Al) dan Besi (Fe) yang tinggi akan mengikat unsur hara penting seperti Fosfor (P), membentuk senyawa yang tidak larut. Akibatnya tanaman kekurangan nutrisi meskipun pupuk sudah diberikan"
— (Matari Agro Indonesia, 2026; Dyna Grow, 2024)
Secara empiris, hubungan antara pH tanah dan hasil panen sangat nyata. Penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat: semakin rendah pH tanah, semakin rendah pula produksi yang dihasilkan.
"Hasil analisis statistik menunjukkan persamaan regresi: Hasil Padi = -1,46 + 0,95 pH Tanah. Artinya, setiap kenaikan satu satuan pH tanah akan meningkatkan hasil panen sebesar 0,95 ton per hektare"
— (Jurnal Ilmiah Universitas Lambung Mangkurat)
Hasil Panen Bisa Turun Setengahnya
Senada dengan hal tersebut, Handono Warih, Humas Duta Petani Milenial Komisariat Daerah Kabupaten Pekalongan, membenarkan bahwa kondisi ini sudah menjadi masalah umum.
"Tidak satu dua petak lahan yang kami survey, sebagian besar pH-nya rendah, berkisar antara 4,5 - 5,5. Padahal idealnya untuk padi itu di angka 6 sampai 7," ujar Handono.
Menurutnya, dampaknya sangat nyata terhadap ekonomi petani. Jika pH tanah normal (netral), potensi panen bisa mencapai 7 hingga 8 ton per hektare. Namun karena kondisi tanah asam, hasil yang didapat petani saat ini seringkali hanya berkisar 4 hingga 5 ton per hektare atau bahkan kurang.
"pH rendah sangat mengganggu produktivitas, pastinya akan drop atau turun drastis. Padahal tanah Pekalongan sebenarnya subur, sayang sekali jika potensinya tidak keluar maksimal karena masalah pH," tambahnya.
Untuk mengatasi hal ini, Handono menekankan pentingnya edukasi kepada petani untuk lebih memperhatikan kesehatan tanah.
"Ini tugas kita bersama. Perlu penggunaan mikroorganisme pemulia tanah dan bahan organik atau herbal untuk memperbaiki struktur tanah dan menaikkan pH secara alami, agar sektor pertanian di Pekalongan bisa berkelanjutan dan makmur," pungkasnya.
Referensi: Berbagai jurnal ilmiah pertanian nasional dan internasional serta hasil observasi lapangan.
Har
