PEKALONGAN – Kondisi dunia pertanian di Kabupaten Pekalongan menjadi sorotan tajam dalam forum diskusi publik Halal bi halal Pegiat Literasi Kabupaten Pekalongan, di Rumah Baca Pintar Kedungwuni, 4 April 2026. Handono Warih, yang dikenal dengan nama panggung Abu Waswas, meluapkan kekesalan mendalam atas minimnya perhatian pemerintah terhadap literasi petani dan kerusakan lingkungan akibat praktik pertanian yang tidak berkelanjutan.
Dalam paparannya yang emosional dan blak-blakan di hadapan Plt Bupati Sukirman dan Ketua DPRD Abdul Munir, Abu Waswas yang juga menjabat sebagai Duta Pertanian Milenial ini menegaskan bahwa dunia literasi pertanian saat ini "marginal" dan tidak tersentuh kebijakan yang nyata.
"Saya sedih, Pak. Kenapa? Karena literasi petani hari ini tidak ada yang konsen. Saya jalanin dunia pertanian organik itu rasanya pinggiran. Saya nahan perasaan ini sudah bertahun-tahun, sampai saya harus nyamar jadi wartawan supaya bisa akses ke eksekutif dan legislatif," ujarnya dengan nada tinggi.
Krisis Regenerasi dan Polusi Lingkungan
Abu Waswas membeberkan dua masalah krusial. Pertama adalah krisis regenerasi. Semakin sedikit anak muda yang mau terjun ke sawah, sementara petani tua semakin sepuh. Ia mengaku sebagai satu-satunya lulusan Teknologi Pangan di wilayah tersebut yang harus belajar mandiri karena minim teman diskusi.
Kedua, soal kerusakan ekologi. Ia mengungkap data yang mengkhawatirkan bahwa tingkat pencemaran tanah dan air akibat residu pertanian (pestisida dan pupuk kimia) sangat tinggi, bahkan disebut menjadi penyebab utama longsor di beberapa titik seperti di Petungkriyono karena struktur tanah menjadi rapuh dan licin seperti terkena sabun. "Tanah sudah tidak mampu saling mengikat, daya kohesi tanah buruk, rusak pH di kisaran 4,5. Ini bahaya, Pak. Kita harus mulai beralih ke organik, tapi ilmunya dari mana kalau literasinya nol?" tegasnya.
Kritik Tajam ke Birokrasi dan Media Pria yang juga aktivis ini tak segan menggugat pola pikir birokrasi yang hanya sibuk dengan proyek fisik dan mengabaikan pembangunan sumber daya manusia.
"Mereka sibuk dengan infrastruktur fisik, lupa pembangunan non-fisik. Petani kalau ditanya program, taunya cuma minta bantuan, proposal, proposal. Padahal yang dibutuhkan adalah ilmu dan kemandirian," tambahnya.
Tak hanya pemerintah, Abu Waswas juga mengkritisi dunia jurnalistik dan media di Pekalongan yang dinilai kurang berani bersikap kritis. "Harusnya jurnalis itu kritis dong. Katakan sejujurnya walaupun itu pahit, daripada ngomong manis-manis tapi malah bikin 'diabetes' pembangunan. Saya ini pura-pura goblok, padahal sudah tahu masalahnya," cetusnya.
Ia meminta Plt Bupati Sukirman yang sudah terbuka menerima kritik ini untuk segera merealisasikan langkah nyata, mulai dari menghentikan penggunaan bahan kimia berbahaya hingga mencarikan solusi agar petani melek teknologi dan informasi, demi menjaga ketahanan pangan Kabupaten Pekalongan ke depannya.
Har
