infokota.online
Pekalongan — Uji coba penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SMP Negeri 2 Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, mendapat sambutan hangat dari para siswa. Model penyajian baru ini dinilai lebih efektif, meningkatkan selera makan, sekaligus berpotensi menekan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti keracunan makanan.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan menunjuk SMPN 2 Karanganyar sebagai lokasi piloting uji coba MBG model prasmanan sejak Senin (5/10/2026).
Hingga hari keempat pelaksanaan pada Kamis (8/10/2026), sistem ini terbukti memicu antusiasme siswa yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode pengemasan ompreng (sekat kemasan) sebelumnya.
Mitra Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Pekalongan, Andung Supriyagi, mengonfirmasi kesiapan pihaknya dalam menguji coba skema anyar ini sesuai petunjuk teknis BGN pusat.
“Respon siswa sejauh ini sangat positif. Makanan dapat disantap dalam kondisi masih hangat dan porsinya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak,” ujar Andung pada Kamis (8/10/2026).
Andung menambahkan, evaluasi menyeluruh terkait kendala teknis di lapangan akan terus digodok hingga pekan depan sebelum dilaporkan secara resmi ke BGN. Keputusan akhir mengenai keberlanjutan skema prasmanan atau pengembalian ke metode lama sepenuhnya berada di tangan BGN. Selain meningkatkan kepuasan siswa, model prasmanan juga diharapkan mampu meminimalkan risiko kontaminasi makanan.
Dukungan senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pekalongan, Kholid. Saat meninjau lokasi, ia melihat langsung tingginya partisipasi para siswa hingga makanan yang disajikan habis tak tersisa.
“Antusiasmenya jauh lebih tinggi ketimbang saat menggunakan ompreng. Tadi kami ikut mencicipi, dari nasi, sayur, hingga telur semuanya masih hangat dan segar—serasa menikmati masakan orang tua di rumah atau restoran,” ungkap Kholid.
Melihat keberhasilan simulasi ini, Disdikbud Pekalongan berharap skema prasmanan dapat direplikasikan ke sekolah-sekolah lain melalui koordinasi yang matang antara pihak satuan pendidikan dan pemangku kepentingan terkait.
Salah satu siswi SMPN 2 Karanganyar, Novi, secara terbuka mengaku lebih menyukai sistem penyajian prasmanan. Menurutnya, kualitas hidangan terasa jauh lebih baik.
“Lebih enak yang prasmanan, Pak. Nasi dan lauknya terasa lebih segar dan hangat,” pungkas Novi.
(war)
