Siasati Kemarau Ekstrem, Pemdes Kulu Fokuskan Irigasi Pompa Tenaga Surya dan Imbau Petani Atur Pola Tanam
Pekalongan, 3 September 2026 — Menghadapi ancaman kekeringan akibat kemarau ekstrem, Pemerintah Desa (Pemdes) Kulu, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan mengambil langkah cepat untuk memastikan ketersediaan air bagi para petani. Selain memaksimalkan fungsi embung sebagai area resapan, saluran irigasi prioritas dialirkan langsung ke lahan pertanian warga.
Kepala Desa menjelaskan bahwa penurunan debit air di embung desa saat ini terjadi karena air di jalur atas memang diprioritaskan untuk mengaliri sawah-sawah milik petani. “Kondisi embung memang menyusut drastis karena airnya kita utamakan untuk irigasi petani di jalur atas. Lagipula, fungsi awal embung ini adalah sebagai resapan air (geotek), bukan penampung utama untuk mengaliri pertanian secara luas,” ujarnya.
Ia menambahkan, embung yang dulunya sempat kering tersebut sebelumnya telah diinovasi melalui sistem pipanisasi dari wilayah perbatasan, sehingga pasokan air sempat terjaga sebelum memasuki musim kemarau ekstrem tahun ini.
Restrukturisasi Ekosistem Embung dan Bantuan Sumur Dalam
Selain fokus pada penanganan air, Pemdes juga berencana menguras dan mengganti ekosistem ikan di dalam embung. Ikan jenis predator seperti tawal akan diganti dengan bibit ikan konsumsi yang lebih bermanfaat bagi warga sekitar, seperti mujaer, gurame, tawes, dan nila.
Guna membantu kebutuhan air yang kian mendesak, Pemdes Kulu merealisasikan Pekerjaan Konstruksi Irigasi Perpumpaan bantuan dari Kementerian Pertanian (Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian). Program beranggaran APBN Tahun 2026 sebesar Rp155.700.000 ini dilaksanakan oleh UPKK Kelompok Tani Sumber Makmur.
Program ini mencakup pembangunan sumur bor dalam seluas 30 meter yang didukung teknologi ramah lingkungan berbasis panel surya sebagai sumber energi terbarukan penggerak pompanya.”Kami mengupayakan pengeboran sumur dalam melalui program irigasi perpumpaan dari Dinas Pertanian ini. Fokusnya untuk membantu menambah debit air, khususnya bagi Kelompok Tani Sumber Makmur. Kalau dibilang mengatasi sepenuhnya mungkin berlebihan, tapi ini sangat membantu pembagian debit air di lapangan,” jelasnya.

Imbauan Bagi Petani: Koordinasi dan Alih Pola Tanam
Menyikapi potensi konflik air yang sering terjadi saat musim kering, Pemdes mengimbau seluruh petani untuk selalu berkoordinasi dengan kepala dusun atau pengurus irigasi setempat. Warga diminta saling berbagi air secara adil dan menghindari perselisihan di lapangan.
Selain itu, petani juga disarankan untuk menyesuaikan pola tanam selama musim kemarau berlangsung.”Harapan kami, warga saling koordinasi dalam berbagi air, jangan sampai ada pertengkaran. Untuk menghadapi musim kering ini, kami juga mengimbau petani agar mengutamakan tanaman palawija atau non-padi dulu yang hemat air,” pungkasnya.
