Menggugat Narasi "Kewarasan": Sanggahan Atas Kerapuhan Komitmen Pernikahan Modern
KAJEN, Infokota.online, 24 Juni 2026 – Unggahan dalam sebuah unggahan yang menjadikan "menjaga kewarasan" sebagai tameng pembenaran atas perceraian adalah potret nyata rapuhnya mentalitas generasi hari ini.
Narasi klise tersebut seolah menjustifikasi bahwa menyerah pada keadaan adalah pilihan heroik, padahal sering kali itu hanyalah wujud dari kegagalan dalam merawat esensi ibadah, kesabaran, dan keikhlasan yang sesungguhnya.
Pernikahan dalam Islam bukanlah kontrak kenyamanan yang bisa diputus begitu saja saat ujian datang melanda. Menjadi seorang istri adalah ladang ibadah terbesar, di mana ketaatan dan keteguhan mempertahankan rumah tangga di masa sulit justru menjadi kunci pembuka pintu surga.
Ketika seseorang dengan mudah memilih jalur cerai di Pengadilan Agama dengan alasan "rasa sakit" atau "habisnya kesabaran," hal itu justru mempertanyakan kembali sejauh mana makna ibadah tersebut dihayati. Kesabaran sejati tidak memiliki batas akhir; ia diuji justru saat situasi berada di titik terendah, bukan hanya bertahan saat kondisi sedang baik-baik saja.
Begitu pula dalam urusan merawat anak.
Menjadikan anak sebagai alasan perpisahan dengan dalih "demi masa depan mereka" adalah sebuah ironi yang egois. Anak-anak membutuhkan figur orang tua yang utuh untuk tumbuh dengan mental yang stabil. Melarikan diri menjadi *single mom* egois hanya akan memindahkan beban psikologis dan luka baru bagi anak yang kehilangan figur ayah. Anak tidak butuh orang tua yang egois mengejar "kebahagiaan versi diri sendiri," melainkan ibu yang tangguh dan ikhlas berkorban demi keutuhan masa depan mereka.
Di sinilah pentingnya mengembalikan ruh *qonaah* (menerima ketetapan dengan ikhlas).
*Qonaah* bukan hanya menerima rezeki materi yang seadanya, tetapi juga ikhlas menerima kekurangan karakter pasangan sambil terus berikhtiar memperbaikinya. Keputusan bercerai yang gegabah sering kali dipicu oleh hilangnya rasa syukur dan suburnya sifat membanding-bandingkan kehidupan nyata dengan ilusi standar media sosial yang menyesatkan.
Menjaga kewarasan bukan dengan cara melarikan diri dari komitmen, melainkan dengan memperluas wadah sabar dan keikhlasan di dalam dada. Pernikahan orang dulu awet bukan karena hidup mereka tanpa masalah, tetapi karena mereka tahu cara berjuang, bukan cara menyerah.
Menggugat Fenomena \"Cerai demi Waras\": Pakar Ingatkan Bahaya Kerapuhan Komitmen di Era Digital
Sebuah unggahan viral di media sosial kembali memicu perdebatan hangat mengenai ketahanan rumah tangga modern. Foto yang menampilkan latar belakang Pengadilan Agama Kajen dengan narasi "perpisahan adalah jalan terakhir untuk menjaga kewarasan" menjadi potret nyata bagaimana istilah mental health kerap dijadikan pembenaran instan untuk menyudahi sebuah komitmen pernikahan.
Fenomena ini memicu kritik tajam dari berbagai pihak yang menilai bahwa generasi hari ini mengalami penurunan ketangguhan mental jika dibandingkan dengan generasi terdahulu.
Menanggapi hal tersebut, pakar psikologi mengingatkan bahwa esensi pernikahan adalah ruang perjuangan, bukan kontrak kenyamanan yang bisa diputus sepihak saat ego terusik.
Dalam sudut pandang psikologi klinis, mengambil jalan pintas bercerai demi menghindari konflik sering kali merupakan bentuk dari mekanisme koping yang keliru (avoidance coping mechanism).
Menghindar dari masalah alih-alih menyelesaikannya justru menunjukkan rapuhnya regulasi emosi."Ketahanan psikologis (resilience) yang sehat itu diukur dari kemampuan seseorang untuk beradaptasi, bertahan, dan mencari solusi bersama pasangan di tengah krisis, bukan dengan langsung memutuskan hubungan," ujar seorang psikolog klinis dalam sebuah diskusi tata keluarga.
Situasi ini diperparah oleh masifnya paparan standar pernikahan fiktif di media sosial, seperti TikTok, yang sering kali merusak nilai keikhlasan (qonaah) dalam rumah tangga. Konten-konten yang mengagungkan kemewahan materi atau menuntut pasangan tanpa cela menciptakan distorsi kognitif yang membuat seseorang mudah merasa tidak puas.
Terkait hal ini, Prof. Dr. Yuke Roosjati Siregar, M.Pd., Psi., Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, menegaskan bahwa ketangguhan sebuah keluarga tidak bisa dibangun secara instan, melainkan harus melibatkan aspek spiritual dan emosional yang mendalam."Keluarga yang tangguh mampu mengembangkan dirinya sebagai satu kesatuan. Ketangguhan keluarga dibangun melalui komunikasi yang sehat dan pemberdayaan bersama dalam menghadapi masa sulit, serta mengaitkannya dengan nilai religiusitas sebagai solusi masalah," tegas Prof. Yuke Roosjati Siregar.
Menjadikan "kewarasan anak" sebagai tameng perceraian juga dinilai sebagai tindakan yang egois. Berbagai studi psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak-anak dari korban perceraian yang tidak matang secara emosional justru memiliki risiko tinggi mengalami trauma masa kecil (Adverse Childhood Experiences).
Pakar menekankan bahwa kecuali dalam kasus kekerasan (KDRT), melarikan diri dari komitmen hanya akan memindahkan beban psikologis baru kepada anak.
Pada akhirnya, menjaga kewarasan sejati dalam pernikahan bukanlah dengan cara melarikan diri ke Pengadilan Agama, melainkan dengan memperluas wadah kesabaran, menurunkan ego, dan membentengi diri dari standar semu dunia digital. Pernikahan generasi terdahulu bisa awet bukan karena mereka hidup tanpa masalah, melainkan karena mereka memilih untuk berjuang bersama, bukan menyerah berdua.
Daftar Pustaka :
tautan dan sumber valid dari *statement* ahli serta data psikologi yang digunakan dalam narasi berita di atas :
* **Pernyataan Prof. Dr. Yuke Roosjati Siregar, M.Pd., Psi.** (mengenai Ketangguhan Keluarga/Family Resilience):
* **Sumber:** Artikel Ilmiah / Rilis Resmi Universitas Padjadjaran (Unpad) mengenai ketahanan keluarga di masa krisis.
* **Tautan Sumber:** [https://www.unpad.ac.id/2020/06/pakar-unpad-pemberdayaan-keluarga-penting-dilakukan-di-tengah-pandemi/](https://www.unpad.ac.id/2020/06/pakar-unpad-pemberdayaan-keluarga-penting-dilakukan-di-tengah-pandemi/) *(Artikel ini membahas bagaimana ketangguhan keluarga dibangun lewat komunikasi, aspek religiusitas, dan pemberdayaan bersama dalam menghadapi masa sulit).*
* **Konsep Psikologi: Avoidance Coping Mechanism & Psychological Resilience dalam Pernikahan:**
* **Sumber:** Asosiasi Psikologi Amerika (APA) & Jurnal Psikologi Klinis.
* **Tautan Sumber:** [https://www.apa.org/topics/resilience](https://www.apa.org/topics/resilience) *(Panduan ilmiah mengenai bagaimana membangun resiliensi/ketahanan mental sejati dengan cara menghadapi dan mengadaptasi masalah, bukan menghindar).*
* **Dampak Psikologis Perceraian & Risiko Trauma pada Anak (Adverse Childhood Experiences/ACEs):**
* **Sumber:** Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) & Kajian Psikologi Perkembangan Anak.
* **Tautan Sumber:** [https://www.cdc.gov/violenceprevention/aces/index.html](https://www.cdc.gov/violenceprevention/aces/index.html) *(Kajian valid mengenai bagaimana perceraian atau ketidakharmonisan keluarga yang tidak dimanajemeni dengan baik bisa menjadi salah satu faktor trauma masa kecil pada anak).* *
