"Bertani Harus Dijamin Penghasilannya, Bukan Cuma Disuruh Tanam" – Respon Sukaryo, Pengamat Pertanian Atas Krisis Regenerasi Petani
PEKALONGAN, 17 Mei 2026 – Fenomena menurunnya minat generasi muda di Desa Watugajah, Kecamatan Kesesi, yang enggan turun ke sawah, mendapat sorotan tajam dari Sukaryo, Konsultan Pengembangan Vanili Jawa Tengah sekaligus anggota Paguyuban Petani dan Penyuluh (PPKP) Kabupaten Pekalongan.
Menanggapi keluhan Bapak D yang khawatir tak ada penerus usai ia pensiun, Sukaryo menilai akar masalahnya bukan sekadar soal takut kotor atau bau tanah, melainkan persoalan ekonomi dan jaminan masa depan yang belum terjawab dari dunia pertanian.
Menurutnya, apa yang disampaikan warga bernama Sky dalam diskusi komunitas pertanian sangat mewakili kenyataan di lapangan. "Nyata susah cari penerus, paling dilempit (dijual)." begitu kutip pendapat yang disampaikan di grup diskusi, oleh Sukaryo.
"Betul sekali apa yang disampaikan rekan kami. Selama ini pemikiran kita terlalu sederhana: suruh menanam, selesai. Padahal anak muda itu berpikir rasional. Mau bertani sekarang butuh modal besar untuk sewa lahan, hasil panen belum tentu stabil, dan uang baru cair 2–3 bulan sekali. Bandingkan dengan kerja di pabrik atau tempat lain yang gajian bulanan, pasti mereka lebih memilih yang jelas penghasilannya," ungkap Sukaryo.
Perlu andil kebijakan Pemerintah
Ia menekankan, imbauan Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan, Sukirman, yang ingin mengubah citra bertani menjadi pekerjaan modern dan menjanjikan kesejahteraan adalah langkah tepat, namun harus dibarengi dengan aksi nyata.
Menurut Sukaryo, seperti tertulis dalam diskusi tersebut, solusi kuncinya ada pada peran aktif pemerintah melalui program swasembada pangan yang melibatkan pemuda dengan sistem kerja dan gaji tetap bulanan.
"Pemerintah harus berani berkorban modal di awal. Buat sistem pelatihan langsung sekaligus perekrutan tenaga kerja di pertanian modern. Siapkan penampungan hasil panennya, salurkan lewat koperasi atau kemitraan dengan pabrik. Kalau sudah berjalan 1–2 tahun baru dilepas mandiri. Kalau menunggu kesadaran sendiri, susah sekali. Anak muda lebih tertarik jika bayarannya bersih, pasti, dan teratur seperti di industri," paparnya.
Sukaryo juga menyoroti data BPS yang mencatat 66,44% petani berusia di atas 45 tahun, sementara petani muda hanya sekitar 10%. Angka ini kata dia adalah sinyal bahaya besar. Selama pertanian belum menawarkan kepastian ekonomi, jaminan harga, dan kemudahan akses lahan, maka ajakan bertani hanya akan menjadi seremonial belaka.
"Masalahnya bukan di fisik yang takut kotor, tapi di rasa aman hidup yang belum didapat dari bertani. Kalau penghasilan petani lebih tinggi dari UMR dan pasti setiap bulan, saya yakin anak muda akan berbondong-bondong turun ke sawah, bangga malah," pungkas Sukaryo.
Ia berharap Dinas Ketahanan Pangan dan Duta Petani Milenial segera merumuskan skema kemitraan yang menguntungkan dan pasti bagi pemuda Pekalongan.
Drc
