PEKALONGAN, 17 Mei 2026 – Sebuah keprihatinan mendalam datang dari Bapak D, petani warga Desa Watugajah, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan. Saat tim Humas Duta Petani Milenial meninjau kondisi pH tanah dan serangan penyakit tanaman di wilayahnya, ia mengungkapkan kekhawatiran besar akan masa depan lahan pertaniannya.
Anak-anaknya, katanya, sama sekali tidak berminat melanjutkan usaha keluarganya. "Kalau saya sudah pensiun nanti, entah siapa yang meneruskan. Anak-anak sekarang tidak mau ke sawah, takut kulit jadi hitam, takut kotor, apalagi bau tanah. Sekali-kali diajak turun, cuma setengah jam, pelan-pelan menghilang. Sudah pulang, cuci tangan pun masih dikira bau tanah saja," keluhnya, disambut anggukan pemahaman seluruh tim yang hadir.
Kisah ini bukan sekadar persoalan keluarga, melainkan gambaran nyata tantangan regenerasi petani yang kian mengkhawatirkan. Handono Warih, Humas Duta Petani Milenial Kabupaten Pekalongan, mengaku sangat prihatin dan langsung menyampaikan fakta ini kepada Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan, Sukirman.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) lewat Sensus Pertanian 2023 mempertegas kondisi tersebut: jumlah petani muda usia 15–34 tahun turun menjadi hanya 10,24% dari total petani, menurun dibandingkan 11,97% pada tahun 2013. Sebaliknya, persentase petani berusia di atas 45 tahun mencapai 66,44%, bahkan di wilayah Jawa angkanya tembus lebih dari 70%. Artinya, dua dari tiga pengelola lahan kini sudah berusia lanjut, sementara penerusnya nyaris tak ada .

Pemkab segera tindaklanjuti, bentuk kepedulian
Merespons hal itu, Sukirman menegaskan akan mengambil langkah strategis dan menyeluruh. Ia mengerahkan seluruh pemangku kepentingan, khususnya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian serta seluruh Organisasi Perangkat Daerah terkait, untuk menyusun terobosan mengubah citra bertani di mata anak muda.
"Kami sadar, ini masalah krusial. Duta Petani Milenial akan kami jadikan ujung tombak kampanye. Pertanian harus ditampilkan sebagai pekerjaan modern, berteknologi, dan menjanjikan kesejahteraan, bukan lagi pekerjaan kotor dan melelahkan. Kami ingin mengubah pola pikir: bertani itu keren, menguntungkan, dan mulia karena menjaga ketahanan pangan daerah," tegas Sukirman.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan berkomitmen menjawab keresahan para petani tua seperti Bapak D, agar lahan sawah tetap tergarap dan warisan pangan daerah tetap lestari di tangan generasi penerus.
Drc
