PEKALONGAN – Membuka ruang dialog yang selama ini kerap tertutup, Plt Bupati Pekalongan, Sukirman, dan Ketua DPRD Abdul Munir turun langsung berbaur dalam acara “Ngumpul Bareng” Forum Netizen Julid di Landscape Area, Kedungwuni, Rabu (1/4/2026).
Kehadiran para pejabat tinggi ini menjadi bukti nyata keterbukaan pemerintah menampung aspirasi, kritik, dan realita lapangan dalam suasana santai namun substansial.
Dalam forum bertajuk “Iki Piye Iki Piye Sih” ini, Sukirman menegaskan komitmennya menjaga kebebasan berpendapat. Ia menilai kritik masyarakat bukanlah gangguan, melainkan masukan vital untuk perbaikan.
“Tidak boleh ada pembatasan ide dan gagasan. Sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah harus tetap jalan, termasuk otokritik kami di internal pemerintahan,” tegas Sukirman.
Meski mengakui belum bisa memfasilitasi kegiatan secara penuh, ia memastikan seluruh usulan, khususnya terkait infrastruktur jalan yang menjadi sorotan utama, akan ditindaklanjuti. Pola komunikasi terbuka ini dinilainya harus menjadi budaya baru yang berkelanjutan.
Senada, Ketua DPRD Abdul Munir menyebut forum ini sebagai penawar dahaga aspirasi yang selama ini tersumbat. Menurutnya, ruang seperti ini penting untuk meluruskan niat dan konsep pembangunan agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Di sini kan bebas semua. Saluran yang tersumbat bisa terbuka, pikiran yang tidak bisa disalurkan jadi tersalurkan,” ujar Munir, yang berharap forum serupa ke depan lebih fokus dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat.
Sementara itu, panitia Handono Warih (Abu Waswas) mengapresiasi langkah pejabat yang mau duduk lesehan bersama netizen. Ia menilai ini momen sejarah di mana “julid” atau kritik pedas justru diapresiasi sebagai alat kontrol sosial. “Kami bangga, mereka mau duduk bersama yang selama ini mungkin dianggap tidak menyenangkan. Ternyata tanggapan beliau mengakui bahwa ‘julid’ ini untuk membangun,” ungkapnya.
Handono berjanji akan merangkum seluruh aspirasi yang masuk untuk diserahkan secara resmi. Harapannya, komunikasi yang sebelumnya buntu bisa menjadi lancar, sehingga pembangunan nantinya tidak hanya seremonial, tapi benar-benar menjawab kebutuhan mendesak rakyat. “Jangan berhenti memberi kritik yang membangun dan terus berliterasi, agar kita bisa menarik kesimpulan yang lebih bijaksana,” pungkasnya.
